Pinakosit

Slice of expression living in Alfina's moments.

Thursday, October 21, 2021

Perjalanan Pulang Kimo

Hari ini Kimo pulang. Pulang ke tempat yang tenang. Usia 3 tahun, jenis kelamin laki-laki, sudah disteril, jenis kucing kampung Tabby. Sudah tenang di antara 2 tanah ya Mo, Kak Fina dan orang rumah insyaAllah ikhlas, untuk kebaikan dia dan kami.

Kimo menderita sakit yang cukup parah.. membuat dia menderita selama 4 bulan ini, nama virusnya FIV, virus pada hewan yang menyerang kekebalan tubuhnya. Menurut para dokter hewan (Vet) yang beberapa kali kutemui, virus ini memiliki angka kematian yang rendah, namun penderitaannya yang tinggi. 

Perjalanan pulang Kimo sudah bisa aku rasakan semenjak dia mulai banyak berperilaku aneh.. mulai dari pipis dan pup di sembarang tempat, intensitas makan yang agresif; misal makan tongkol dan dry food dengan gigitan dan kunyahan yang keras sampai melukai giginya. Tanda yang aneh juga aku lihat ketika dia suka menjilat tanah dan tidur di pasir pup. Sungguh, semua keanehan ini sudah kuceritakan ke Vet. Sebenarnya, Kimo bukan kucingku yang pertama kali berperilaku seperti ini. Sebelumnya, Kimi, Nubil, yang sama-sama punya virus FIV, juga berperilaku aneh menjelang akhir hidupnya. Hanya saja, aku yakin Kimo ini pasti sehat kembali, karena dia memiliki siklus yang cukup unik, naik turun; sehat-sakit-parah-mendingan-sehat-aktif-repeat. Huh, sedih sedih sedih.

Ternyata hari ini adalah hari terakhir Kimo ada di kandang. Keputusan untuk mengurung Kimo di kandang bukan hal yang gampaaaaaangg. Bukannya terkurung untuk mendingan, tapi malah menjadikan dia lemas dan stress; tapi harus kulakukan ya, ini untuk bisa memantau Kimo, dan untuk melindungi Chikuy, kucingku yang sehat dan semoga selalu sehat dan happy..

Malam sebelum kepulangan Kimo, aku mendulang Kimo dengan dry food di tanganku. Aku tau Kimo menyukai makan dengan didulang dan diberi topping snack atau wet food di atas dry food. Dia makan begitu lahap. Aku lanjutkan mendulang Kimo minum dengan pipet helpful bermerek One Med. Terima kasih pipet, aku tidak tau dengan cara apa aku bisa memberi Kimo minum tanpa alatmu. Alhamdulillah, Kimo nurut. Pukul 7 malam setelah makan, waktunya makan obat antibiotik. Kata Vet, obat ini bisa meredakan flu dan mengeluarkan cairan di perut Kimo. 

Cairan apa? Iya, cairan eksresi. Siang harinya, aku dan kimo travelling Joyo Grand ke Suhat menggunakan tas baru jenis kucing astronot hits. Di perjalanan, dia sangat anteng, diam, syahdu.. Yap, kita ke klinik hewan untuk check-up. Aku mencatat semua tanda yang dialami Kimo. Vet dan asisten Vet mencari letak cairan Kimo yang berada di bawah perut. Cairan ini timbul karena FIV, dan akan selalu disimpan di tubuh Kimo, yang membuat metabolisme di tubuh dia terganggu. Aku hanya ingin rasa sakitnya berkurang, sehingga Vet menawarkan untuk menyedot cairan; dengan memasukkan jarum dan menghubungkan pipet lalu dituangkan ke mangkuk besi. Ternyata cairannya BANYAK, berisi 400 ml! Berat badan dia sebelum diambil cairan adalah 4,5 kg... berarti, setelah cairan disedot, dia turun 4,1 kg, sayangnya tidak semua cairan terambil, karena sebagian yang ada di tubuh dia sudah mengental dan sulit. Ya, ini adalah kronologi cairan yang aku khawatirkan selama 2 bulan ini. 

Aku sudah siap dengan worst scenario kalau dia sudah tidak bisa survive dengan penyakitnya, terlepas angka kematiannya rendah atau bagaimana. Keluarga di rumah juga khawatir jika kesakitan kimo selalu merepotkanku. Soal cairan, pup sembarangan, tidur tidak nyenyak, flu dan batuk yang dia derita 24 jam sebelum mati. 

Good bye Kimo, aku tau kamu pamit pulang kepadaku setelah aku tiba dari praktek Puskesmas. Aku tau kamu sayang aku, dan Kak Fina sayang kamu Kimo. Kimo sudah tenang ya, sudah tenang, sudah happy yang unlimited. Aku tidak tega melihat sakitmu. Virus ini jahat karena sudah mencuri kelucuanmu, Mo. Despite it all, I am happy that he has been there with me and my family. Who would've thought my sis, Kak Vannia saw a little Kimo on 2019 in front of our house. It is never a coincidence, he met his home, and we raise such a beautiful happy cat like you. 

<3



Wednesday, December 23, 2020

Menjaga Optimisme Diri dalam Fase Bermimpi


Miliki, tuliskan, lakukan, dan puaskan mimpimu, karena siapa lagi yang akan melakukannya selain dirimu?

               Sudah  akan tahun 2021, dengan mimpi-mimpi yang terus bertaut. Memiliki mimpi adalah salah satu kunci menaklukkan diri. Dengan mimpi, kita menjadi pemilik arah pandangan ke depan untuk diri sendiri. Sebagaimana halnya aktris Maudy Ayunda yang memiliki kesempatan belajar di Oxford University, Agnes Monica yang menyanyi sejak kecil hingga saat ini masuk Top Board Music Internasional, dan Nadiem Makarim yang membangun start up lokal Go-jek. 3 fenomena tersebut membuat Saya melihat bahwa pada akhirnya, yang diakui dan dilihat masyarakat adalah pencapaian mimpi yang telah tebukti. Mimpi yang bersifat abstrak walaupun sudah tertulis pun masih belum bisa di breakdown menjadi nyata jika belum ambil start dan plan. Lalu timbul pertanyaan, esensi dari mimpi itu seperti apa? Apakah penting untuk kita memiliki mimpi, jika hanya dijadikan patokan tanpa aksi? Dari 3 contoh tersebut, dapat ditarik benang merah bahwa starting point atau titik awal dari setiap orang berbeda-beda. Namun, bukankah ini saatnya membuat Planning of Action? Seperti halnya yang Saya lakukan, mahasiswi gizi yang sedang berada dalam proses menjadi, atau the process of becoming. Dalam proses tersebut, saya sedang melewati berbagai fase.

               Fase awal yang saya lewati adalah dilema dengan pencapaian mimpi. Apakah menjadi cukup itu sudah cukup? Bagaimana Saya menunjukkan mimpi? Menuliskannya, atau juga mempublikasikannya? Bagaimana menghadapi lika-liku dalam proses bermimpi? Dengan tulisan ini, besar harapan Saya dalam memberikan inspirasi pembaca untuk mengawali mimpi dan melanjutkan mimpi, sesuai dengan tema “Show Up Your Dreams and Make it Happen”. Dalam bermimpi, kita pasti melihat pencapaian orang lain. “Bisakah Saya seperti mereka?”. Fase ini bukan untuk dijadikan beban, karena justru ini penting untuk melakukan proses sadar diri, untuk mengidentifikasi titik awal dari sebuah mimpi. Yang pada langkah selanjutnya, kita akan merasa perlu mengenali siapa diri kita sebenarnya. Apa hal-hal yang penting untuk diri kita? Nilai-nilai apa yang perlu dikembangkan untuk menjadi versi terbaik diri kita? Kita berasal dari latar yang seperti apa? Karena, dengan mengenali diri, kita menjadi tau apa yang sebenarnya kita inginkan dan impikan. Salah satu contoh di atas, bahwa Maudy Ayunda pada usia 26 tahun melanjutkan pendidikan di Oxford University. Kilas balik dari biografi Maudy, dia dibesarkan di keluarga yang aware terhadap pendidikan. Fasilitas yang didapat merupakan tunjangan penuh untuk pendidikan Maudy. Maka, fakta bahwa Maudy bisa sampai pada titik ini adalah hasil dari proses-proses dia terdahulu.

               Itulah yang dimaksud keadaan identifikasi dan “sadar diri”, bahwa masing-masing orang memiliki titik awal yang berbeda, dan tidak apa-apa untuk memulai dari titik awal versi diri sendiri. Bukan bahwa kita tidak seberuntung Maudy, justru dengan ini kita bisa menentukan titik awal yang tepat untuk memulai suatu mimpi, dan mulai mencari kesempatan. Pada faktanya, sosok seperti Maudy juga pernah melewati fase krisis terhadap mimpinya. Apa yang membuatnya bangkit? Dalam Live Session Instagram, dia berpesan bahwa cara menjaga optimisme dalam bermimpi, adalah salah satunya dengan selalu mem-follow up planning dengan jelas. Contoh lain, seperti yang dialami Nadiem Makarim. Dalam merespon fase bosan dan dilemma, kita perlu ada rasa memiliki mimpi, dan melihat catatan mimpi dalam jurnal, agar tetap merasa optimis menjalankannya.

                Fase kedua adalah fase perjuangan, yaitu mengejar mimpi yang akan Saya realisasikan selama 5 tahun kedepan. Nantinya, Saya ingin melihat diri seorang Fina yang menjadi praktisi Ahli Gizi, menikah dan mempunyai anak, lalu bertempat tinggal di Australia. Ketiga mimpi ini dapat kita lihat secara fisik, maka yang perlu dipersiapkan adalah bekal soft skill dan hard skill sebagai komponen utama dalam mencapai mimpi Saya- seperti memiliki empati yang baik, emosi yang stabil, dan mental yang tangguh. Dalam segi hard skill, Saya perlu menyiapkan kompetensi ilmu terapan gizi, tabungan pendidikan, buku penunjang bidang ilmu Gizi, dan keterampilan rumah tangga yang baik. Dalam proses menjalankan fase kedua, pasti akan menemukan banyak tantangan. Tantangan ini adalah momentum untuk menemukan membentuk diri. Tidak ada yang datang secara gampang, dan prosesnya akan terbayar. Fase ketiga, adalah menjaga optimisme dan keyakinan dalam bermimpi. Ketika mimpi ada dan sedang berjalan dengan cukup baik, tuliskan dalam jurnal atau buku harian adalah cara terbaik menjaga mimpi. Guru saya mengatakan bahwa kertas dan tangan itu memiliki memori; yang turut menjadi saksi tulisan yang kita tuangkan. Saatnya mimpi-mimpi tersebut diberi anak tangga sebagai tanda pencapaian satu persatu. Jika anak tangga dirasa terlalu kaku, kita bisa modifikasi dengan memberikan ilustrasi roller coaster untuk menggambarkan lika liku dan naik turun perjuangan dari mimpi kita. Setidaknya, mimpi yang kita realisasikan bersama-sama disaksikan oleh jurnal mimpi, tangan, dan diri kita. Hal ini menjadi penting dan esensi dari mimpi, bahwa setiap proses memiliki arti  dan nilai di dalamnya.

               Dari ketiga fase tersebut, masing-masing memiliki tantangannya tersendiri, dan hal tersebut adalah sangat wajar. Proses membandingkan adalah hal yang lumrah, dan semoga kita segera selesai dengan proses tersebut, untuk bisa melangkah ke fase selanjutnya, yaitu optimis pada diri sendiri. Maka, tak ada salahnya untuk langsung memulai eksekusi mimpi. Dalam menjalankan 3 fase tersebut, penting untuk menemukan dan menghargai keberadaan supporting system yang bisa mendukung progres mimpi kita, seperti keluarga, sahabat, hingga bacaan tontonan yang dapat memacu energi kembali. Inti moral yang ingin Saya sampaikan adalah, setiap orang memiliki starting point yang berbeda, dengan timezone yang berbeda. Jika rasa khawatir timbul dari pencapaian orang lain, maka saatnya kita menyadari bahwa kita semua memiliki fase yang sama, yaitu kesempatan dan peluang yang sama. Inilah inti dan perlunya menjaga optimisme  dan rasa “butuh” akan sebuah mimpi. Untuk mencapai optimisme yang berkelanjutan, kita harus membuat Planning of Action, lalu menjadikan mimpi sebagai sebuah kebutuhan yang  akan terus membersamai jalan hidup kita. Cheers! Tetap 3M. Mimpi, Merencanakan, dan  Mengeksekusi. Hindari 17 M, Mmmmmmmmmmudah puas, Mmmalas, dan Mmmmenguras energi negatif! Terima kasih tak terhingga.

 

Sunday, August 23, 2020

My COVID-19 Developed Skills : Planting and Cooking

Life  changes since the wave begin. It comes without signs, it spreads, without barrier. We don’t want this to happen, and we think this is the end of the world.  But no worries, the new normal has just begin. I proudly say, cheers for the fun 4 months of quarantine.

I’m Alfina Nur Isyrofi from Poltekkes Kemenkes Malang.

 Pandemic of COVID-19 is still in the process of healing. The healing starts from small, up to the bigger scale. From individual to institutional level. The condition was made in order to create new normal as people tries to adjust within it. In any attempts of adjusting,  there will always be trial and error. Exactly, Social and physical distancing are the most challenging moments to do for the early 2 months. Feeling stuck, yesterday feels like “just now”,  and days feels like years. Later on, we start to realize that this virus lies between, and around us. Of course, we need to survive . It’s time, to maximize our potentials in order to support the new normal after this wave. The terms are called COVID-19 developed skills.

COVID-19 developed skills are present because we are going beyond something that we cannot imagine before. I take this theme because it happens to me. Yes, since COVID-19 has become the new reborn of the world, we can always change to be the new version of our self, in a good way. Where there are small actions, I believe it can lead to significant impact at least to ourselves. Because of COVID-19, I experience my developed skills, which are planting and cooking. 



Source : cyberbotanist.tumblr.com

Related to this phenomenon, Ive been thinking about the worst scenario of what will happen during the transition of pandemic and new normal. Once, I did buy tomato with the price three thousand rupiah. But the quantity isn’t exactly as much as  before the pandemic. I think that it is an economical change that hampers the small unit of household. As a nutrition student, it leads me to figure out about the food accessibility and security in my own household. My thoughts creates an outcome, that I must take a role on providing the food needs, especially for my family.

First thing to set up is by thinking of my goal. What am I doing this for? If I want betterment in aspect of food, than I should choose what is feasible and doable. I choose P, L, A, N, T, I, N, G.  A simple verb+ing that has endless cycle. Planting introduces me to have the sense of belonging. The process might be simple. Preparing a space for them to grow, putting the tomato seed into the ground, frequently watering it, let them grow, and voila! There comes the tomato, a fresh veggie, healthy, and pickable. By seeing them grow, it makes me relax and appreciate the nature and the knowing where my food come from. Also, to keep my memories open, I write my activity trough planting journal by labelling them. Expressing daily activity by journaling gives high impact to challenge my consistency in planting.

Second, I develop my skills at cooking. To me, cooking means processing, preparing, until serving. In every part, I learn time efficiency, patience, and challenging my taste bud. I take cooking chicken breast as my example. I bought 1 kilogram of it, and cut them into half, and save the other half. I prove that I still can cook ½ kilograms of chicken breast for 5 peoples, in 1 day. Of course, with other sustainable vegetables. This shows that it makes me learn about how to maximize and functionalize what I have now. True, that cooking is our basic life skill, at least to survive. 

     Source : Ghibliworld

            What is my aim? At least, I can complete my daily needs. This is practical and efficient. I believe that even at very worst, people think that I’m being selfish by not buying foods and killing the economical activities, I proudly say no. There are limits that people can effort, including me. I realize that being me is still far from perfect, I still need the accessibility of other components of food, which is why, buying activity can still be done and I still can focus on doing planting, and cooking. It’s worth to be shared in social media, because it can be platform to discuss about the same interest. And who knows, one another will likely to share tips together!

COVID-19 gives us lesson learn in the middle of pandemic, we found strengths that we cannot imagine before. The important thing of having strength is its sustainability, the power to make it consistent to improve, and habituate it. Blessing in disguised. Make it as a new normal, new habit, new skills. I hope my speech can give inspiration.  Thank you very much.


Alfina Nur Isyrofi

Halo halo Agustus 2020

 


Tuesday, February 25, 2020

Telusur Ruangan Ruang Belajar Aqil

      
Senin, 24 Februari 2020 pukul 13.00-15.00 WIB, kelas Sarjana Terapan Gizi dan Dietetika 2A berjumlah 39 mahasiswa dari kampus Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang melakukan observasi di Ruang Belajar Aqil (RBA). Tempat ini berada di Jl. Cempaka nomor 1, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Dalam observasinya, 39 mahasiswa dibagi menjadi bebrapa kloter, masing-masing kloter beranggotakan 7-10 mahasiswa, yang dipandu oleh 1 relawan untuk menelusuri RBA.

Telusur Ruangan atau room tour yang diikuti oleh Saya dipandu oleh Mas Zidan, yang merupakan relawan tetap di RBA. Bersama Mas Zidan, roomtour yang dilakukan meliputi ruangan literasi, kebun edukasi, ruang belajar utama, ruang pengelola, ruang desiminasi, ruang rekreasi, dan ruang program. Dalam perjalanan di setiap ruangan menghabiskan waktu yang cukup lama yaitu 1,5 jam. Waktu tersebut digunakan untuk bercerita dan berdiskusi mengenai sejarah RBA, bagaimana RBA bisa terbentuk, bagaimana RBA dapat mendapatkan buku, bagaimana relawan dan staf magang berkegiatan, hingga jam operasional RBA. memaparkan ilmu-ilmu manajemen yang diberlakukan di RBA, seperti perencanaan program kerja, output, sasaran, dan kolaborator yang terkait RBA.

Dalam perjalanan telusur ruangan, Saya mendapatkan banyak sekali informasi mengenai RBA. RBA telah berdiri sejak 10 tahun yang lalu, tepatnya tahun 2020. RBA merupakan sistem yang diadakan secara non-profit atau tidak mengambil keuntungan dalam beroperasional. Adapun yang menyumbangkan buku-buku untuk dibaca di ruang literasi adalah para donator. Kegiatan lain yang juga dilakukan selain literasi adalah kegiatan pembahasan skripsi, yang dilakukan oleh KRS +. Kegiatan ini dilakukan dan diharapkan dapat  membantu pengerjaan skripsi atau tugas akhir perkuliahan, meningkatkan daya nalar, dan meningkatkan skill kolaborasi. Adapun sistem yang dilakukan adalah 4 tahap presentasi oleh pembuat skripsi, dan dilanjutkan dengan saran oleh para peserta KRS + dan 1 mentor. Selain skripsi, RBA memiliki jadwal program binaan yang terstruktrur terplotting di setiap daerahnya di area Malang raya hingga Kota Batu. Untuk memperlancrar seluruh kegiatan RBA, para relawan diklasifikasikan menurut jenis-jenisnya, pembukuan uang dan transparansi dana dipaparkan guna mengetahui pemasukan dan pengeluaran kegiatan RBA. RBA juga memberlakukan sistem peminjaman buku. Buku tersebut dapat dipinjam oleh pengunjung dengan cara mendaftar anggota, menyertakan KTP/KTM, lalu dapat dipinjam hingga 2 minggu.

 Kegiatan dalam RBA berkaitan sangat erat sekali dengan implementasi ilmu manajemen. Seluruh program kerja dan pelaksanaannya dilakukan dengan perencanaan, target atau sasaran yang jelas, relawan yang mengetahui tugas pokok dan fungsi masing-masing, dan sistem yang memberi kenyamanan. Mas Zidan pun mengatakan bahwa jika terdapat masalah dalam RBA, seluruh komponen yang berada di RBA turut menganalisis masalah, dan memikirkan pemecahan masalah, dan mencegah agar masalah tersebut terjadi.

Saya sebagai salah satu pengunjung RBA mengapresiasi adanya RBA yang dapat beroperasi dengan baik dengan manajemen yang mantap selama 10 tahun ini. Saya tertarik membaca buku- buku di RBA yang diantaranya banyak yang Saya minati. Untuk kedepannya, saya harap RBA mendapatkan subsidi dari pemerintah untuk mendukung program literasi, yang dapat mencerdaskan kehidupan bangsa.







Sunday, January 5, 2020

berteman dengan campak

campak menyerang aku di awal musim kemarau, di akhir bulan Ramadhan 2019. aku akan menceritakan semuanya mulai dari akhir perkuliahanku di semester 2.

survive dari ujian akhir 

di akhir perkuliahan, aku menjalani ujian praktek matakuliah dasar kuliner. ujian ini individu dan teknisnya memasak makanan yang yang aku dapat dari undian… wow aku dapet tom yum gong, masakan Thailand. aku punya waktu 2 hari untuk blajar masak. 

hari itu tiba, aku berbagi kompor dengan temanku rippie, dia masak sushi roll. 3 jam berlalu, dan kita letakkan hidangan kita di meja hidangan lab. hari itu bulan puasa, aku sama skali ngga ngincip, akhirnya teman-teman disebelahku mengincip "kurang asin, kurang asem, blablabla". 

oke, setelah evaluasi masakan, kami sekelas dibawakan plastik untuk membungkus makanan untuk bisa dimakan waktu buka puasa. alhamdulillah, alhamdulillah

beberapa hari setelah uprak, aku kembali ke kampus untuk merayakan sempro mba Alya, rekan the chamber; "selamat mba Alya", lalu aku pulang ke rumah.

di perjalanan ke rumah, aku merasakan lapar yang sewajarnya timbul pukul 11 an. tapi kali ini, aku juga merasa pusing dan demam, entah mungkin aku tidur setelah sahur atau bagaimana. 

jember

setelah kuliah slesai, h-2 kami sekeluarga mudik ke jember, rumah nenek dari ayah.. kami mencoba tol baru, seru dan megelno karna harus niteni/memperhatikan papan instruksi yang masih belum jelas instruksinya, pada saat itu.

idul fitri berjalan lancar, kami solat di lapangan stasiun rambipuji ((gede, luas, view baguus)), dan kumpul-kumpul seperti biasa. karena rumah mbah ti adalah rumah tetua, kami selalu didatangi warga-warga sekitar, dan tugas kami-kami cucu mbah ti adalah menunggu di depan teras dan mempersilahkan tamu masuk bergantian. seerti tahun-tahun sebelumnya, ada aja cowok ganteng, ada juga yang curi-curi pandang, wkwk, euforia silaturahmi. 

kadang aku ingin momen ini segera berakhir, karna kadang bisa sampai sore dan melelahkan. 

ada saudara perempuanku, lingling, yang kuanggap dekaat sekali disbanding saudara cewek yang lain. kita curcol2, sambat2, bareng. aku seneng dia bisa lega bercerita karna saat itu memang dia sedang kalut, yah pubertas…..

let us out

selama bertahun2 mudik ke jember, aku dan kak vannia belum pernah keluar untuk mengelilingi kota jember, kecuali silaturahmi, makan bareng, merayakan ultah, dkk. 

kali ini kak upik dan kak vannia ingin ke mall, aku dan lingling juga ingin ikut. kami izin ke tante dewi, sedikit keringat dinging tapi akhirnya kami diizinkan. horeeeeey ladub

kita semua nonton, tapi ga bareng. kak van dan kak upik nonton aladdin, aku dan lingling nonton kuntilanak huahahahhaha. 

seru abis, kocak, akhirnya keluar dan foto-foto didepan cover film. 

selanjutnya pulang dan beli kartu uno untuk di rumah, kumpul keluarga sekalian main bareng, ada saudara paling kecil yang bisa dijadiin bahan gara2, wkwkkwk. 

sakit

aku bangun pagi pukul 8. aku merasa nggak enak hati, karna yang lain udah pada bangun. "aku kenapa se?" badanku aneh. sangat lemah, lesu, pusing. aku baru ingat kalau aku sedang datang bulan. aku ke kamar mandi, ke dapur, dan kembali ke Kasur, dan tidur. aku ingin kembali segar…… 

aku bangun lagi pukul 12 siang. badanku semakin sakit, tulang2 terasa nyeri, jantungku berdebar kencang, badanku panas. aku nangis dan manggil mama, mama lagi main uno dan Nunda buat ke kamar. akhirnya, mama dating dan she knows im not okay. hari itu aku nggga ikut kemana2, stay di rumah dan mencoba tidur. entah rasanya ingin muntah, dan akhirnya aku keluarkan. omku memberi segelas teh panas untuk menghangatkan perut, walaupun dari sisi kesehatan teh memang kurang pas, tapi tetap kuminum karna sudah takbisa kutahan rasa sakitnya. 

sore hari, keadaanku semakin memburuk, tubuhku makin lemas, panggulku sakit-- sepertinya karena datang bulan, tulang-tulang dan sendi-sendiku terasa sakiiiit semua, remek. kak upik dan kak van pun memebeli obat Pereda mens, obat herbal, dan lainnya. akhirnya mama pun searching-searching di google, bisa jadi aku sakit karena datang bulan, dan masuk angin. 

malam harinya, kebetulan tetangga di seberang jalan adalah bidan. kami memutuskan untuk periksa. badanku sakit sekali,gatal, merah2, aku pun tidak kuat untuk jalan kaki, dan akhirnya kedua tanganku dikunci di kedua leher saudara-saudaraku. 

"tekanan darahnya 140/80, ini bisa jadi dehidrasi, ginjalnya kerja keras, stress". aku pasrah dengan semua diagnosa bu bidan. mungkin aku harus banyak2 minum air putih. pikiranku sudah kabur, ingin aku segera pulang ke mbah ti dan tidur.

mama dan kak van berusaha menenangkan, karna aku sangat takut. tapi akhirnya aku tertidur, karena obat yang macem-macem dan belum fix ini kena sakit apa.

besoknya, kami harus berangkat ke probolinggo untuk acara halal bi halal. dalam perjalanan, aku sangat menderita, cuacanya panas sekali, badanku panas-dingin dan lemas. 

setiba di probolinggo, badanku mulai membaik. aku mulai makan bakso ketika keluarga2 sedang kumpul Bersama. 

mama datang dan menanyakan kondisiku, aku sempat ingin rawat inap dan tidur. acil indah menghampiri kami dan mencoba untuk menelpon dokter Irma untuk videocall denganku. aku menyebutkan semua gejala2ku dan aku melihat dr Irma senyum seperti beliau mengenali jenis penyakit ini like  "its a familiar one, ah I know this, no need to worry". dr Irma menyaut "oh kena Campak ini". aku heran kenapa dr Irma se chill itu, damn im freaking dying that time.

ok, lets deal, aku kena campak. apakah campak berbahaya?

campak adalah penyakit yang disebabkan oleh virus, menyerang system pernafasan, kulit (muncul ruam di setelah hari ke 3 demam turun), dan saluran pencernaan, memiliki masa inkubasi 7 hari (jadi aku suda terinfeksi sejak uprak kemarin). "campak bisa sembuh dengan sendirinya, karena tubuh dapat melawan penyakit ini". lalu apa obat untuk mempercepat penyembuhanku? aku harus minum obat2 mulai kimia sampe herbal. aku direkomendasikan minum imboost dan kunir madu di sore hari, untuk mendinginkan perutku.

masa penyembuhanku cukup lama, yaitu 7 hari. aku harus tetap periksa ke dokter bpjsku untuk memastikan aku benar-benar campak. selama 7 hari, aku sangat mudah lapar dan enggan makan di waktu yang sama. di malam hari, aku sangat lapar dan lidahku terasa pahit, ingin muntah. pukul 01.00 pagi aku bangun dan muntah tanpa isi. it was the unsatisfying vomit, tho.

rutinitas ini harus aku jalani, aku ingat pola reaksiku saat akan lapar, saat akan muntah, aku pikir aku sedang sakit keras. namun aku juga berfikir kalau orang-orang yang rawat inap/sakit keras akan lebih menderita karena tiap hari harus intensif perawatannya… huf

setelah 4 hari, demamku mulai turun. tapi sekujur tubuhh terasa gatal, aku yakin ini ruam. saat aku membuka baju untuk melihat punggung, ruamku sudah sangat merah, wah… kulit terasa clekat clekit

ruam mulai timbul, pertanda akan sembuh.

sore hari, keluarga besarku datang ke rumah, karena masih suasana idulfitri kami punya banyak hidangan untuk dimakan. kucingku, cimil minum meminum air di mangkok plastik. itu adalah minum terakhirnya. dia keluar untuk bermain bersama saudara2ku, lalu mobil hitam Avanza dari arah utara dengan laju cepat melewati rumah, dan cimil tertabrak. kakakku histeris dan sangat kaget. kami semua menangis dan memegang tangan lucunya, dia masih berumur 1 tahun. selamat tiggal cimil, we miss you a lot.

tak terasa, hari-hari dimana aku sakit justru ditambah dengan kepergian kucingku cimil. kami berduka

2 minggu setelahnya, adikku terkena campak, 1 bulan setelahnya, kakakku terkena campak.

dasar aku, toxic :) wkwk