Miliki,
tuliskan, lakukan, dan puaskan mimpimu, karena siapa lagi yang akan
melakukannya selain dirimu?
Sudah
akan tahun 2021, dengan mimpi-mimpi yang
terus bertaut. Memiliki mimpi adalah salah satu kunci menaklukkan diri. Dengan
mimpi, kita menjadi pemilik arah pandangan ke depan untuk diri sendiri. Sebagaimana
halnya aktris Maudy Ayunda yang memiliki kesempatan belajar di Oxford
University, Agnes Monica yang menyanyi sejak kecil hingga saat ini masuk Top
Board Music Internasional, dan Nadiem Makarim yang membangun start up lokal Go-jek. 3 fenomena tersebut
membuat Saya melihat bahwa pada akhirnya, yang diakui dan dilihat masyarakat
adalah pencapaian mimpi yang telah tebukti. Mimpi yang bersifat abstrak
walaupun sudah tertulis pun masih belum bisa di breakdown menjadi nyata jika belum ambil start dan plan. Lalu
timbul pertanyaan, esensi dari mimpi itu seperti apa? Apakah penting untuk kita
memiliki mimpi, jika hanya dijadikan patokan tanpa aksi? Dari 3 contoh tersebut,
dapat ditarik benang merah bahwa starting
point atau titik awal dari setiap orang berbeda-beda. Namun, bukankah ini
saatnya membuat Planning of Action? Seperti
halnya yang Saya lakukan, mahasiswi gizi yang sedang berada dalam proses
menjadi, atau the process of becoming.
Dalam proses tersebut, saya sedang melewati berbagai fase.
Fase
awal yang saya lewati adalah dilema dengan pencapaian mimpi. Apakah menjadi
cukup itu sudah cukup? Bagaimana Saya menunjukkan mimpi? Menuliskannya, atau
juga mempublikasikannya? Bagaimana menghadapi lika-liku dalam proses bermimpi? Dengan
tulisan ini, besar harapan Saya dalam memberikan inspirasi pembaca untuk mengawali
mimpi dan melanjutkan mimpi, sesuai dengan tema “Show Up Your Dreams and Make it Happen”. Dalam bermimpi, kita
pasti melihat pencapaian orang lain. “Bisakah Saya seperti mereka?”. Fase ini bukan
untuk dijadikan beban, karena justru ini penting untuk melakukan proses sadar
diri, untuk mengidentifikasi titik awal dari sebuah mimpi. Yang pada langkah
selanjutnya, kita akan merasa perlu mengenali siapa diri kita sebenarnya. Apa
hal-hal yang penting untuk diri kita? Nilai-nilai apa yang perlu dikembangkan
untuk menjadi versi terbaik diri kita? Kita berasal dari latar yang seperti apa?
Karena, dengan mengenali diri, kita menjadi tau apa yang sebenarnya kita inginkan
dan impikan. Salah satu contoh di atas, bahwa Maudy Ayunda pada usia 26 tahun
melanjutkan pendidikan di Oxford University. Kilas balik dari biografi Maudy,
dia dibesarkan di keluarga yang aware
terhadap pendidikan. Fasilitas yang didapat merupakan tunjangan penuh untuk
pendidikan Maudy. Maka, fakta bahwa Maudy bisa sampai pada titik ini adalah
hasil dari proses-proses dia terdahulu.
Itulah
yang dimaksud keadaan identifikasi dan “sadar diri”, bahwa masing-masing orang
memiliki titik awal yang berbeda, dan tidak apa-apa untuk memulai dari titik
awal versi diri sendiri. Bukan bahwa kita tidak seberuntung Maudy, justru
dengan ini kita bisa menentukan titik awal yang tepat untuk memulai suatu mimpi,
dan mulai mencari kesempatan. Pada faktanya, sosok seperti Maudy juga pernah
melewati fase krisis terhadap mimpinya. Apa yang membuatnya bangkit? Dalam Live Session Instagram, dia berpesan
bahwa cara menjaga optimisme dalam bermimpi, adalah salah satunya dengan selalu
mem-follow up planning dengan jelas. Contoh
lain, seperti yang dialami Nadiem Makarim. Dalam merespon fase bosan dan dilemma,
kita perlu ada rasa memiliki mimpi, dan melihat catatan mimpi dalam jurnal,
agar tetap merasa optimis menjalankannya.
Fase
kedua adalah fase perjuangan, yaitu mengejar mimpi yang akan Saya realisasikan
selama 5 tahun kedepan. Nantinya, Saya ingin melihat diri seorang Fina yang
menjadi praktisi Ahli Gizi, menikah dan mempunyai anak, lalu bertempat tinggal
di Australia. Ketiga mimpi ini dapat kita lihat secara fisik, maka yang perlu
dipersiapkan adalah bekal soft skill
dan hard skill sebagai komponen utama
dalam mencapai mimpi Saya- seperti memiliki empati yang baik, emosi yang
stabil, dan mental yang tangguh. Dalam segi hard
skill, Saya perlu menyiapkan kompetensi ilmu terapan gizi, tabungan pendidikan,
buku penunjang bidang ilmu Gizi, dan keterampilan rumah tangga yang baik. Dalam
proses menjalankan fase kedua, pasti akan menemukan banyak tantangan. Tantangan
ini adalah momentum untuk menemukan membentuk diri. Tidak ada yang datang secara
gampang, dan prosesnya akan terbayar. Fase ketiga, adalah menjaga optimisme dan
keyakinan dalam bermimpi. Ketika mimpi ada dan sedang berjalan dengan cukup
baik, tuliskan dalam jurnal atau buku harian adalah cara terbaik menjaga mimpi.
Guru saya mengatakan bahwa kertas dan tangan itu memiliki memori; yang turut
menjadi saksi tulisan yang kita tuangkan. Saatnya mimpi-mimpi tersebut diberi
anak tangga sebagai tanda pencapaian satu persatu. Jika anak tangga dirasa terlalu
kaku, kita bisa modifikasi dengan memberikan
ilustrasi roller coaster untuk menggambarkan
lika liku dan naik turun perjuangan dari mimpi kita. Setidaknya, mimpi yang
kita realisasikan bersama-sama disaksikan oleh jurnal mimpi, tangan, dan diri
kita. Hal ini menjadi penting dan esensi dari mimpi, bahwa setiap proses
memiliki arti dan nilai di dalamnya.
Dari
ketiga fase tersebut, masing-masing memiliki tantangannya tersendiri, dan hal
tersebut adalah sangat wajar. Proses membandingkan adalah hal yang lumrah, dan
semoga kita segera selesai dengan proses tersebut, untuk bisa melangkah ke fase
selanjutnya, yaitu optimis pada diri sendiri. Maka, tak ada salahnya untuk
langsung memulai eksekusi mimpi. Dalam menjalankan 3 fase tersebut, penting
untuk menemukan dan menghargai keberadaan supporting
system yang bisa mendukung progres mimpi kita, seperti keluarga, sahabat,
hingga bacaan tontonan yang dapat memacu energi kembali. Inti
moral yang ingin Saya sampaikan adalah, setiap orang memiliki starting point yang berbeda, dengan timezone yang berbeda. Jika rasa khawatir timbul dari pencapaian
orang lain, maka saatnya kita menyadari bahwa kita semua memiliki fase yang
sama, yaitu kesempatan dan peluang yang sama. Inilah inti dan perlunya menjaga optimisme
dan rasa “butuh” akan sebuah mimpi. Untuk
mencapai optimisme yang berkelanjutan, kita harus membuat Planning of Action, lalu menjadikan mimpi sebagai sebuah kebutuhan yang akan terus membersamai jalan hidup kita. Cheers! Tetap 3M. Mimpi, Merencanakan, dan
Mengeksekusi. Hindari 17 M,
Mmmmmmmmmmudah puas, Mmmalas, dan Mmmmenguras energi negatif! Terima kasih tak
terhingga.

No comments :
Post a Comment
Wdyt?