Pinakosit

Slice of expression living in Alfina's moments.

Wednesday, December 23, 2020

Menjaga Optimisme Diri dalam Fase Bermimpi


Miliki, tuliskan, lakukan, dan puaskan mimpimu, karena siapa lagi yang akan melakukannya selain dirimu?

               Sudah  akan tahun 2021, dengan mimpi-mimpi yang terus bertaut. Memiliki mimpi adalah salah satu kunci menaklukkan diri. Dengan mimpi, kita menjadi pemilik arah pandangan ke depan untuk diri sendiri. Sebagaimana halnya aktris Maudy Ayunda yang memiliki kesempatan belajar di Oxford University, Agnes Monica yang menyanyi sejak kecil hingga saat ini masuk Top Board Music Internasional, dan Nadiem Makarim yang membangun start up lokal Go-jek. 3 fenomena tersebut membuat Saya melihat bahwa pada akhirnya, yang diakui dan dilihat masyarakat adalah pencapaian mimpi yang telah tebukti. Mimpi yang bersifat abstrak walaupun sudah tertulis pun masih belum bisa di breakdown menjadi nyata jika belum ambil start dan plan. Lalu timbul pertanyaan, esensi dari mimpi itu seperti apa? Apakah penting untuk kita memiliki mimpi, jika hanya dijadikan patokan tanpa aksi? Dari 3 contoh tersebut, dapat ditarik benang merah bahwa starting point atau titik awal dari setiap orang berbeda-beda. Namun, bukankah ini saatnya membuat Planning of Action? Seperti halnya yang Saya lakukan, mahasiswi gizi yang sedang berada dalam proses menjadi, atau the process of becoming. Dalam proses tersebut, saya sedang melewati berbagai fase.

               Fase awal yang saya lewati adalah dilema dengan pencapaian mimpi. Apakah menjadi cukup itu sudah cukup? Bagaimana Saya menunjukkan mimpi? Menuliskannya, atau juga mempublikasikannya? Bagaimana menghadapi lika-liku dalam proses bermimpi? Dengan tulisan ini, besar harapan Saya dalam memberikan inspirasi pembaca untuk mengawali mimpi dan melanjutkan mimpi, sesuai dengan tema “Show Up Your Dreams and Make it Happen”. Dalam bermimpi, kita pasti melihat pencapaian orang lain. “Bisakah Saya seperti mereka?”. Fase ini bukan untuk dijadikan beban, karena justru ini penting untuk melakukan proses sadar diri, untuk mengidentifikasi titik awal dari sebuah mimpi. Yang pada langkah selanjutnya, kita akan merasa perlu mengenali siapa diri kita sebenarnya. Apa hal-hal yang penting untuk diri kita? Nilai-nilai apa yang perlu dikembangkan untuk menjadi versi terbaik diri kita? Kita berasal dari latar yang seperti apa? Karena, dengan mengenali diri, kita menjadi tau apa yang sebenarnya kita inginkan dan impikan. Salah satu contoh di atas, bahwa Maudy Ayunda pada usia 26 tahun melanjutkan pendidikan di Oxford University. Kilas balik dari biografi Maudy, dia dibesarkan di keluarga yang aware terhadap pendidikan. Fasilitas yang didapat merupakan tunjangan penuh untuk pendidikan Maudy. Maka, fakta bahwa Maudy bisa sampai pada titik ini adalah hasil dari proses-proses dia terdahulu.

               Itulah yang dimaksud keadaan identifikasi dan “sadar diri”, bahwa masing-masing orang memiliki titik awal yang berbeda, dan tidak apa-apa untuk memulai dari titik awal versi diri sendiri. Bukan bahwa kita tidak seberuntung Maudy, justru dengan ini kita bisa menentukan titik awal yang tepat untuk memulai suatu mimpi, dan mulai mencari kesempatan. Pada faktanya, sosok seperti Maudy juga pernah melewati fase krisis terhadap mimpinya. Apa yang membuatnya bangkit? Dalam Live Session Instagram, dia berpesan bahwa cara menjaga optimisme dalam bermimpi, adalah salah satunya dengan selalu mem-follow up planning dengan jelas. Contoh lain, seperti yang dialami Nadiem Makarim. Dalam merespon fase bosan dan dilemma, kita perlu ada rasa memiliki mimpi, dan melihat catatan mimpi dalam jurnal, agar tetap merasa optimis menjalankannya.

                Fase kedua adalah fase perjuangan, yaitu mengejar mimpi yang akan Saya realisasikan selama 5 tahun kedepan. Nantinya, Saya ingin melihat diri seorang Fina yang menjadi praktisi Ahli Gizi, menikah dan mempunyai anak, lalu bertempat tinggal di Australia. Ketiga mimpi ini dapat kita lihat secara fisik, maka yang perlu dipersiapkan adalah bekal soft skill dan hard skill sebagai komponen utama dalam mencapai mimpi Saya- seperti memiliki empati yang baik, emosi yang stabil, dan mental yang tangguh. Dalam segi hard skill, Saya perlu menyiapkan kompetensi ilmu terapan gizi, tabungan pendidikan, buku penunjang bidang ilmu Gizi, dan keterampilan rumah tangga yang baik. Dalam proses menjalankan fase kedua, pasti akan menemukan banyak tantangan. Tantangan ini adalah momentum untuk menemukan membentuk diri. Tidak ada yang datang secara gampang, dan prosesnya akan terbayar. Fase ketiga, adalah menjaga optimisme dan keyakinan dalam bermimpi. Ketika mimpi ada dan sedang berjalan dengan cukup baik, tuliskan dalam jurnal atau buku harian adalah cara terbaik menjaga mimpi. Guru saya mengatakan bahwa kertas dan tangan itu memiliki memori; yang turut menjadi saksi tulisan yang kita tuangkan. Saatnya mimpi-mimpi tersebut diberi anak tangga sebagai tanda pencapaian satu persatu. Jika anak tangga dirasa terlalu kaku, kita bisa modifikasi dengan memberikan ilustrasi roller coaster untuk menggambarkan lika liku dan naik turun perjuangan dari mimpi kita. Setidaknya, mimpi yang kita realisasikan bersama-sama disaksikan oleh jurnal mimpi, tangan, dan diri kita. Hal ini menjadi penting dan esensi dari mimpi, bahwa setiap proses memiliki arti  dan nilai di dalamnya.

               Dari ketiga fase tersebut, masing-masing memiliki tantangannya tersendiri, dan hal tersebut adalah sangat wajar. Proses membandingkan adalah hal yang lumrah, dan semoga kita segera selesai dengan proses tersebut, untuk bisa melangkah ke fase selanjutnya, yaitu optimis pada diri sendiri. Maka, tak ada salahnya untuk langsung memulai eksekusi mimpi. Dalam menjalankan 3 fase tersebut, penting untuk menemukan dan menghargai keberadaan supporting system yang bisa mendukung progres mimpi kita, seperti keluarga, sahabat, hingga bacaan tontonan yang dapat memacu energi kembali. Inti moral yang ingin Saya sampaikan adalah, setiap orang memiliki starting point yang berbeda, dengan timezone yang berbeda. Jika rasa khawatir timbul dari pencapaian orang lain, maka saatnya kita menyadari bahwa kita semua memiliki fase yang sama, yaitu kesempatan dan peluang yang sama. Inilah inti dan perlunya menjaga optimisme  dan rasa “butuh” akan sebuah mimpi. Untuk mencapai optimisme yang berkelanjutan, kita harus membuat Planning of Action, lalu menjadikan mimpi sebagai sebuah kebutuhan yang  akan terus membersamai jalan hidup kita. Cheers! Tetap 3M. Mimpi, Merencanakan, dan  Mengeksekusi. Hindari 17 M, Mmmmmmmmmmudah puas, Mmmalas, dan Mmmmenguras energi negatif! Terima kasih tak terhingga.

 

No comments :

Post a Comment

Wdyt?