28
Oktober 1928. Terhitung 9 dasawarsa sejak ikrar tersebut dilantunkan. Ikrar sakral
yang disampaikan oleh pemuda-pemudi yang bertekad memulai jalan baru melalui perjanjian
satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Mengutarakan ikrar tersebut bukanlah
hal yang mudah dicapai, pemuda-pemudi 1928 pun menaruh harapan kepada generasi
berikutnya, berharap bahwa Ikrar tersebut dapat benar benar terwujud tidak
hanya kemarin, tapi juga hari ini dan esok nanti.
Hari
ini, saya sedang hidup dalam “Esok” mereka.
Sayalah 1 dari ribuan generasi Indonesia yang diharapkan bisa mewujudkan
harapan sumpah para pemuda., khususnya Ikrar ketiga yang berbunyi “menjunjung
bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Bagaimana tidak? Hidup di Indonesia adalah
hidup yang diharapkan bisa berbahasa Indonesia, sebagai bahasa NKRI. Bahasa
persatuan ini tidak boleh blur,
apalagi memudar.
Pertanyaan
saya selama 18 tahun ini, bahasa sehari-hari yang saya gunakan adalah bahasa
Indonesia dan Jawa, namun mengapa diksi bahasa Inggris saya lebih banyak dibanding
diksi bahasa Indonesia?
Ternyata,
semua berawal dari literasi. Sejak sekolah dasar, lingkungan telah mendukung
saya untuk berbahasa Inggris. Hingga saat ini pun, membeli buku berbahasa
inggris sudah merupakan kebiasaan saya. Menonton film berbahasa luar pun sudah
sangat sering. Mungkin asupan-asupan tersebut lah penyebab berkurangnya greget berbahasa Indonesia saya. Saya
yakin, bukan hanya saya yang merasakan memuudarnya bahasa Indonesia dari gaya
hidup bangsa, pun kami generasi bangsa se Indonesia merasakan hal yang sama.
Refleksi
diri itu penting. Bagi yang selama ini selalu menuntut perubahan kebijakan,
mulai dari aspek ini hingga aspek itu, sadarkah bahasa sendiri saja belum
diperkokoh? Seperti kata bijak oleh pak Leo Tolstoy, “Banyak yang tahu bahwa
orang lain harus berubah, tapi sedikit yang tahu bahwa merekalah yang harus
berubah”. Berubah disini memiliki arti menjadi lebih baik, lebih mencintai
bahasa Indonesia. Bukan saya mengenyampingkan urusan kebijakan Negara, namun
untuk menumbuhkan arti berbahasa Indonesia.
Hai
anak bangsa, akankah kita mengembalikan rasa yang pernah ada?

Mewujudkan
harapan para pendahulu kita bukanlah hal yang instan. 2018 berbeda dengan 1928;
tidak bisa kita samaratakan. Kehidupan yang sekarang lebih bersifat bebas, tidak
terikat, dan menjunjung tinggi kebebasan bersuara. Namun sepertinya kita butuh
pemacu, pemecut, pencambuk supaya menyadarkan kita cinta berbahasa Indonesia.
Siapakah pemacu kita? Jawabannya adalah diri kita. Seyogyanya kita yang hidup
di Indonesia, datang di dunia dan berpijak di tanah air. Tidakkah kita punya
rasa malu karena tidak mencintai bahasa tanah air?
Tidakkah
kita ber empati bahwa kita akan saling menyatu karna bahasa Indonesia? Tidakkah
kita sadar, semakin kita menggunakan bahasa Indonesia, semakin kaya &
terhormatlah kita? Saya, Anda, dan Kita semua adalah anak bangsa, harapan
sejuta pendahulu.
Bagai
pohon yang tumbuh, dan akan terus tumbuh
jika disirami air. Maka siramilah cinta berbahasa Indonesia dalam kehidupan
kita, agar nasionalisme tumbuh sempurna.
Benar
kata Kak Is, vokalis Band Indie Payung Teduh, bahwa “semua rasa bisa kita
cipta”. Termasuk rasa cinta yang satu ini. Cinta berbahasa Indonesia, serta
tidak malu berbahasa Indonesia. Berbanggalah karena bahasa kita sudah banyak
diajarkan di Negara-negara besar. Banyak pengunjung asal luar negeri yang
datang ke Indonesia, sekaranglah tugas kita untuk mewarnai mereka, bukan
diwarnai oleh bahasa mereka.
Sudah
tidak akan lagi ada kata “pudar bahasa”, karena rasa cinta kita yang selalu
ada. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk memacu diri menjadi lebih cinta
akan bahasa kita. Mulai dari meningkatkan literasi bahasa Indonesia, dalam
bentuk novel, artikel, puisi, pantun, dan lain sebagainya. Kita bisa mulai
membaca novel karya Pramoedya Ananta Toer, Tan Malaka, yang melukiskan sejarah
Indonesia. Bahasa yang digunakan memang tinggi, namun itulah yang memperkaya
diksi.

Kita
bisa mulai dari perfilman. Menonton film Kartini, Dilan, dan film-film
Indonesia lainnya dan sebagai poin plus untuk mempelajari budaya masa lampau.
Mulai mengganti kebiasaan “toilet” menjadi “kamar kecil/belakang”, dari
“petshop” menjadi “toko hewan peliharaan”, mulai dari “market” menjadi “pasar”,
dan banyak kata lainnya. Bukan maksud saya memudarkan bahasa internasional,
namun meninggikan derajat bahasa Indonesia.
Memperkaya kata dari seni musik, siapa takut? Ada banyak band Indonesia yang nyaman di telinga & memperbanyak diksi, seperti band Indie Payung Teduh, Fourtwnty, Amigdala, Danilla, Monita Tahalea, dan favorit saya, mas Mondo Gascaro.
Memperkaya kata dari seni musik, siapa takut? Ada banyak band Indonesia yang nyaman di telinga & memperbanyak diksi, seperti band Indie Payung Teduh, Fourtwnty, Amigdala, Danilla, Monita Tahalea, dan favorit saya, mas Mondo Gascaro.
Sekian
opini saya. Bila banyak kata yang belum terucap, mohon dimaklumi karena saya
mahasiswi yang sedang belajar. Semoga saran yang saya sumbangkan untuk anak
bangsa dapat diwujudkan. Terimakasih, hidup anak bangsa!
Yang terdangkal,
Anak Bangsa
No comments :
Post a Comment
Wdyt?