Pinakosit

Slice of expression living in Alfina's moments.

Wednesday, December 5, 2018

TUGAS BAPAK DIDIN WIDYARTONO

                               
   KIAT-KIAT MENULIS ARTIKEL BEBAS PLAGIASI

 ALFINA NUR ISYROFI

   D4 1A


Plagiarisme adalah dosa tak termaafkan dalam komunitas ilmiah

Dalam dunia pendidikan, seorang pelajar dituntut mengerjakan tugas. Adapun tugas yang marak dijumpai adalah tugas menulis. Tugas menulis disajikan dalam bentuk dengan ragam ilmiah. ragam ilmiah. Tidak jarang, pelajar akan melakukan plagiarism dalam karya. Di artikel ini, penulis akan mengagkat isu Plagiarisme.

Plagiarisme adalah anak kandung dari kultur “suka mengambil jalan pintas” dan “tidak adanya sikap menghargai proses” serta “tidak adanya rasa tanggung jawab” terhadap sikap dan perilakunya sendiri. Kamus Dewan pula mendefinasikan plagiat sebagai perbuatan meniru, mencontoh karangan (tulisan, hasil kerja orang lain) atau mengutip karangan orang lain (tanpa izin penulis asal). Plagiat juga dianggap sebagai mencedok, yaitu mencedok ciptaan orang lain dan menyiarkannya sebagai ciptaan sendiri.

Terdapat beberapa faktor penyebab mengapa seseorang itu melakukan plagiasi, diantaranya seperti yang berikut :
1. Kesuntukan masa dan tiada idea dalam menyiapkan sesuatu tugasan
2. Sikap mereka yang melakukan plagiat itu sendiri
3. Kurang pendedahan tentang plagiat dan undang-undang hak cipta



Maka dengan adanya tombol copy/cut atau salin, dan paste atau letakkan. seseorang bisa langsung menyalin teks yang ada di dalam bacaan. Orang dengan mudah memindahkan ide milik orang lain. Sebagai sanksinya, plagiasi tersebut mahasiswa bisa dicabut statusnya sebagai mahasiswa, dan pembatalan ijazah apabila mahasiswa telah lulus dari suatu program, sesuai Permendiknas RI No. 17 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di PT.

Menghindari plagiarisme bisa dilakukan dengan berbagai cara. Prinsip yang harus dipegang dalam penulisan adalah orisinalitas. Bisa dibayangkan jika karya kita diplagiasi orang lain, apa yang dirasakan? Tentunya tidak rela dan akan dibalut amarah. Maka menyalin harus sesuai ketentuan, karena dari awal prinsip tersebut seyogyanya ditanamkan di pikiran kita agar tidak berbuat plagiasi. Berikut adalah tips agar tidak plagiasi dalam penulisan artikel.

1.      Menggunakan Kutipan

Kutipan adalah kunci anti-plagiarisme. Kutipan memiliki 2 model, yaitu kutipan langsung dan tidak langsung. Menurut Widyartono (2018:18), Kutipan langsung merupakan kegiatan salin-timpa. Kewajiban atas kegiatan salin-timpaini adalah mencantumkan sumber rujukan. Kegiatan salin-timpa memiliki rasa bangga yang rendah bagi penulis. Kutipan ini hanya mengutip apa yang dikatakan penulis,

2.      Pahami beberapa aturan dasar hak cipta. Plagiarisme bukan sekadar praktik akademik yang buruk, tetapi juga melanggar hukum kalau memang terjadi pelanggaran hak cipta. Pahami poin-poin berikut agar Anda tetap taat hukum:

Secara sederhana, fakta tidak dilindungi hak cipta. Artinya, Anda boleh menggunakan semua fakta yang Anda temukan untuk mendukung karya tulis Anda.

Walau fakta tidak dilindungi hak cipta, kalimat yang digunakan untuk mengekspresikannya dilindungi hak cipta. Terutama kalau susunan kalimat itu orisinal atau unik (hak cipta melindungi ungkapan orisinal). Anda bebas mencantumkan informasi dari literatur lain dalam artikel Anda, tetapi gunakan kalimat Anda sendiri untuk mengekspresikannya. Triknya, ambil fakta yang ada, kemudian sampaikan fakta itu dalam kalimat Anda sendiri. Tiap frase bisa berbeda. Menambahkan koma saja tidak cukup. Mengubah tata bahasa bisa jadi solusi.

Penulis akan mengambil peran Dikarenakan merupakan ragam ilmiah, maka dalam penulisannya, artikel diharuskan memenuhi kriteria berupa : asli/autentik, objektif, lugas, padat, jelas, logis, sistematis, konsisten (Presentasi Bp. Didin, Ragam Ilmiah).

DAFTAR PUSTAKA 


 



(2015, March 30). Retrieved December Wednesday, 2018, from Wordpress: https://sivitasakademika.wordpress.com/2015/03/30/kiat-kiat-penulisan-artikel-ilmiah-dalam-jurnal-ilmiah-internasional/

id.wikihow.com/Menghindari-Plagiat. (2016, December Monday). Retrieved December 3, 2018, from Menghindari-Plagiat: https://id.wikihow.com/Menghindari-Plagiat

jadditahu.com. (2017, Juli). Retrieved Desember Rabu, 2018, from /www.jadditahu.com/2017/07/cek-keunikan-arikel-blog-smallseotools-copyscape.html

Widyartono, Didin. (2018). Panduan Menulis Karya Ilmiah di Perguruan Tinggi. In D. Widyartono, Bahasa Indonesia Riset (pp. 18-22). Malang: UM Press.

Widyartono, Didin. (2018). Panduan Menulis Karya Ilmiah di Perguruan Tinggi. In D. Widyartono, Bahasa Indonesia Riset (pp.25). Malang: UM Press.



Tuesday, October 9, 2018

“WARUNG JUS” WUJUD GERMAS UNTUK INDONESIA SEHAT

ALFINA NUR ISYROFI
 POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG

“The first wealth is health” – Ralph Wa’do Emerson
Kemakmuran yang utama adalah Kesehatan)

Indonesia adalah negara berkembang dengan angka penderita anemia wanita subur sejumlah 40%, kematian akibat penyakit jantung 30%, dan pada tahun 2012, 8,2 juta kematian disebabkan oleh  kanker (www.depkes.go.id), angka penyakit tersebut tidak berbanding jauh dengan negara maju seperti Amerika Serikat. Data tersebut menunjukkan bahwa status kemakmuran Negara tidak mempengaruhi penyakit degeneratif yang diderita warga Negara tersebut.
Paradigma sehat telah diupayakan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, khususnya upaya pencegahan penyakit degeneratif melalui iklan di media massa, dan Upaya Pendekatan Keluarga (UPK). Tahun 2018, Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) berfokus pada tiga aktivitas utama, yaitu: memeriksa kesehatan secara rutin, melakukan aktivitas fisik, dan mengonsumsi sayur dan buah (gizi.depkes.go.id). Gerakan nomor 3 yaitu mengonsumsi sayur dan buah akan diulas dalam essay ini. 

Berbagai survey membuktikan bahwa akses untuk membeli Buah dan Sayur di Indonesia kurang merata, ini dibuktikan dengan banyaknya anak yang menderita kekurangan vitamin dan mineral, seperti KVA dan Gondok di daerah tertinggal. Jikalau hal ini tidak mendapat campur tangan pemerintah, maka status gizi penduduk tersebut dipastikan tidak normal. Pohon buah dan sawah di Indonesia memiliki lahan pertanian yang relatif luas, namun impor buah yang sebenarnya dapat diproduksi di Indonesia justru lebih banyak, dan masyarakat terbukti memilih mengonsumsi buah produk impor daripada buah lokal. (senusantara.wordpress.com) menyatakan, hal inilah masalah utama dalam pengelolaan buah di Indonesia .

Hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) 2015 menyatakan bahwa angka konsumsi buah dan sayur masyarakat Indonesia tergolong rendah yaitu sekitar 57,1 gram per hari dan 33,5 gram per orang per hari. Data lainnya menunjukkan Indonesia adalah negara konsumsi buah terendah di regional Asia, kata Fiastuti sembari menunjukkan data Balitbang Kementrian 2011. (Prihedityo, Endro, CNN Indonesia 2018). World Health Organization (WHO) atau organisasi kesehatan dunia telah menetapkan konsumsi buah dan sayur yaitu 300-400 gram untuk anak usia sekolah dan 400-600 gram untuk orang dewasa, yaitu setara dengan 2-3 buah per hari dengan warna dan jenis yang berbeda.
Edukasi diri merupakan hal yang mendasar. Dengan edukasi kesehatan, seseorang akan tergerak kesadaran untuk mengubah diet (makanan). Maka kesadaran masyarakat diperlukan untuk Gerakan Masyarakat Hidup Sehat. Masyarakat perlu memahami dan peduli akan kesehatan diri. Pola pikir dapat diubah dengan menumbuhkan rasa “saya harus sehat, dengan sehat saya bisa melakukan aktivitas, bekerja, berpikir”. Buah dan Sayur bukanlah hal yang mahal atau sulit dijangkau, melainkan Buah dan Sayur memiliki esensi yang tinggi dalam proses pengaturan tubuh sebagai upaya pencegahan dan pengobatan penyakit. 

Seiring perkembangan zaman, terdapat  teknologi mesin pencampur atau kerap disebut “Blender”, dimana buah dan sayur dapat diolah menjadi minuman yang berserat halus yaitu Jus. Maka jus dapat dijadikan sebagai solusi alternatif konsumsi buah dan sayur. Sesuai pengertian, Jus adalah sari buah (KBBI, 2018). Dapat diambil pengertian bahwa jus adalah cairan yang secara alami terkandung dalam Buah dan Sayur. 

Perlu diketahui bahwa Buah dan Sayuran merupakan Triguna Makanan nomor tiga yang berfungsi sebagai zat pengatur dengan kandungan Vitamin dan Mineral. Jokowarino.id (2018) menyatakan bahwa buah dan sayur bebas dari kolesterol, sehingga dapat terhindar dari penyakit jantung dan tekanan darah tinggi dimana kolesterol terdapat dalam darah. Kelebihan kolesterol banyak diderita penduduk daerah perkotaan, seperti Ibu Kota Jakarta, Bandung, Jogja, Semarang, Surabaya, dan kota di Jawa laimya. Namun bukan hanya penduduk kota yang menderita kelebihan kolesterol, penduduk desa pun bisa dikarenakan pola makan berupa “gorengan” dengan penggunaan minyak goreng lebih dari 3 kali. 

Makanan seperti gorengan dan cepat saji tersebut mengandung kadar Low Density Lipid (LDL) tinggi yang jika terdapat dalam jumlah besar di tubuh akan menempel di peredaran darah dan menyebabkan penyakit kardiovaskuler.  Buah dan Sayur mampu membasmi LDL dan mengganti dengan High Density lipid (HDL) yang tinggi, sebagai contoh yaitu jus Alpukat. (Siregar, Amarullah, 2007:25) Alpukat mengandung omega-3 sebagai lemak esensial untuk kesehatan jantung, dan kandungan Asam Folat untuk membantu mengurangi sensivitas tubuh terhadap pencetus stress.
Bagi penderita anemia, jus  semangka, jambu,  dan tomat diyakini ampuh mengembalikan zat besi karena memiliki kandungan vitamin A yang dapat mengoptimalisasi zat besi dalam tubuh. Masalah kesehatan bisa diatasi melalui konsumsi buah dan sayuran, Svastha Harena.

Jus dapat dikonsumsi segala usia, termasuk lansia karena Jus memiliki serat yang rendah sehingga mudah dikonsumsi. Menurut (mynurz.com:2018), jus dan smoothies yang cocok digunakan untuk lansia, yaitu Anti Penuaan : Jus anggur, blackcurrant (mempunyai zat anti penuaan).
Menurut cookpad.com (2018), terdapat banyak buah dan sayur kombinasi yang aman untuk dijadikan Jus, yakini Jus bengkoang mangga anggur, buah bit wortel lemon dan madu, buah naga lemon dan madu, dan sebagainya. Sementara menurut m.kumparan.com (2018), “beragam pilihan jus sayur yang paling sehat dan bernutrisi tinggi, yaitu sayuran  hijau, tomat, wortel, dan seledri”. 

Pembuatan jus memerlukan buah dan atau sayur, sedikit gula, dan air. Untuk menambah selera, biasanya menambahkan es dan susu, namun pada dasarnya es tidak baik. putrajunio.blogspot.com (2018) menyatakan “Pada prinsipnya, orang akan lebih sehat apabila segala sesuatu yang dimakan atau diminum mendekati suhu tubuh. Dengan demikian, seluruh sistem pencernaan tidak terlalu repot untuk menyesuaikan dengan suhu makanan yang masuk. Selain itu, pada suhu dingin, saraf-saraf di sekitar mulut, tenggorokan, sampai perut bagian atas akan terangsang  secara mendadak dan justru akan menghambat metabolisme”. Sedangkan tambahan susu kental manis akan mengurangi nilai gizi dari buah tersebut karena zat gula, karbohidrat, dan lemak yang cukup tinggi.
Upaya penulis dalam essay ini adalah menyediakan alternatif untuk mengonsumsi buah dan sayur secara menarik dalam bentuk Warung Jus. “Warjus” ini tersedia untuk para penjual jus agar dapat menjual jus di tempat yang layak. Warung ini diharapkan dapat dijumpai di setiap 200 meter, yang di dalamnya  berbentuk kantin dengan meja mini dan kursi yang cukup. 

Warung ini akan tersedia di seluruh daerah Indonesia, khususnya daerah terluar tertinggal, seperti kota di Pulau Sulawesi, Irian Jaya, Kalimantan, dan daerah lain di Indonesia. Tidak hanya daerah tertinggal, Warung Jus diupayakan untuk hadir di Kantin Rumah Sakit yang diharapkan pasien akan memiliki mood yang baik selepas dari ruang periksa atau rawat inap.
Filosofi mewujudkan ide “Warung Jus” ialah hasil dari pengamatan penulis di kota Malang selama 3 tahun yang menunjukkan bahwa para pembeli jus cenderung  akan mengonsumsi jus dengan posisi berdiri atau jalan, dan atau jus tersebut diminum dan tidak langsung dihabiskan yang akan berdampak pada kontaminasi mikroba pada jus tersebut. Selain itu, para penjual jus kurang mendapat tempat yang strategis serta lahan untuk parkir relatif sulit yang menyebabkan para pembeli enggan mampir untuk membeli. 

Adapun waktu untuk minum jus yang dianjurkan adalah pada waktu perut kosong (20 menit sebelum makan) karena jus yang masuk dalam perut akan diolah terlebih dahulu. Dr. Raehanul Bahrain  menerangkan  bahwa memang benar secara kesehatan dianjurkan untuk makan buah sebelum makan besar, karena lebih memudahkan penyerapan buah dan gizi yang terkandung di dalamnya, dan tidak bersaing dengan penyerapan makanan utama serta bisa juga meningkatkan kadar glukosa darah. Maka dalam Warung Jus harus tersedia kursi yang cukup agar konsumen dapat menikmati jus yang masih segar sebelum makan makanan berat.
Langkah kecil dalam mengupayakan “Warung Jus” akan mewujudkan upaya gerakan masyarakat hidup sehat, sekaligus sebagai sarana promosi buah dan sayur. Harga Jus diupayakan ekonomis dan terjangkau untuk semua kalangan, dengan tarif 5.000,- sampai 15.000,-, disesuaikan dengan jenis dan musim buah dan sayur.
Gagasan kecil ini berasal dari anak bangsa yang peduli akan status gizi dan kesehatan rakyat Indonesia. Negara Indonesia butuh agent of change sebagai jembatan menuju kemakmuran di tahun yang akan datang. Semoga gagasan kecil dapat berpengaruh besar dalam perwujudan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat Indonesia, yakini nomor 3 mengonsumsi buah dan sayur. HIDUP SEHAT, INDONESIAKU!

Bibliography

( 2015). Pemantauan Status Gizi (PSG).
11-jus-untuk-diet/. (n.d.). Retrieved September 4, 2018, from http://resephariini.com.
resep-jus-sayuran-dan-buah-untuk-terapi-penyakit-ringan-hingga-berat.html. (2015, 12). Retrieved September 4, 2018, from http://infoherbalis.com.
(2017 , September 15 ). Retrieved September 4, 2018, from https://artikatadari.com/jus/
10-minuman-sehat-untuk-lansia/. (2017, Oktober). Retrieved September 4, 2018, from https://mynurz.com/blog.
arti-kata/jus.html. (2017, September 15). Retrieved September 4, 2018, from https://jagokata.com/: https://jagokata.com/arti-kata/jus.html
pentingnya-konsumsi-buah-dan-sayur-bagi-kesehatan-tubuh. (2017, 02 18). Retrieved 09 Wednesday, 2018, from http://jokowarino.id/.
resep-jus-kombinasi-untuk-mencegah-penyakit-kronis-seperti-hipertensi/. (2018). Retrieved September 4, 2018, from http://www.kindymindy.com/.
berita/manfaat-jus-bagi-kesehatan. (n.d.). Retrieved 9 4, 2018, from www.dokter.id.
Herbold, N. H. (2007). Buku Saku Nutrisi.
Prihedityo, E. (2017, 01 25). gaya-hidup/. Retrieved September Wednesday, 2018, from cnnindonesia.com.
Priherdityo, E. (2016 , 05 26). gaya-hidup/20160526032604-262-133498/konsumsi-buah-indonesia-paling-rendah-se-asia. Retrieved September 3, 2018, from www.cnnindonesia.com
Sehat, H. (2018, 02 17). 1hourmusic/4-jenis-sayuran-yang-paling-sehat-untuk-dibuat-jus. Retrieved 09 3, 2018, from www.m.kumparan.com/.
Siregar, A. H. (2007). Good Mood Food Makanan Sehat Alami.
Soekirman, d. (2006). Hidup Sehat Gizi Seimbang dalam Siklus Kehidupan Manusia.

Vernanda, D. A. (n.d.). /id/cari/jus%20buah20%sehat. Retrieved 9 3, 2018, from https://cookpad.com.

SEMUA RASA BISA KITA CIPTA, kan?


       
                     ALFINA NUR ISYROFI / D-IV GIZI / 1A

28 Oktober 1928. Terhitung 9 dasawarsa sejak ikrar tersebut dilantunkan. Ikrar sakral yang disampaikan oleh pemuda-pemudi yang bertekad memulai jalan baru melalui perjanjian satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Mengutarakan ikrar tersebut bukanlah hal yang mudah dicapai, pemuda-pemudi 1928 pun menaruh harapan kepada generasi berikutnya, berharap bahwa Ikrar tersebut dapat benar benar terwujud tidak hanya kemarin, tapi juga hari ini dan esok nanti.

Hari ini,  sayalah 1 dari ribuan generasi Indonesia yang diharapkan bisa mewujudkan harapan sumpah para pemuda., khususnya Ikrar ketiga yang berbunyi “menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Bagaimana tidak? Hidup di Indonesia adalah hidup yang diharapkan bisa berbahasa Indonesia, sebagai bahasa NKRI. Bahasa persatuan ini tidak boleh blur, apalagi memudar.
Selama 18 tahun pertanyaan ini terus terngiang, bahasa sehari-hari yang digunakan adalah bahasa Indonesia dan Jawa, namun mengapa diksi bahasa Inggris lebih banyak dibanding diksi bahasa Indonesia?

Ternyata, semua berawal dari literasi. Sejak sekolah dasar, lingkungan mendukung untuk berbahasa Inggris. Hingga saat ini pun, membeli buku berbahasa inggris sudah merupakan kebiasaan hamper seluruh masyarakat. Menonton film berbahasa luar pun sudah sangat sering. Mungkin asupan-asupan tersebut lah penyebab berkurangnya greget terhadap berbahasa. Hampir seluruh rakyat Indonesia merasakan pudarnya kecintaan terhadap bahasa Indonesia.

Refleksi diri itu penting. Bagi yang selama ini selalu menuntut perubahan kebijakan, mulai dari aspek ini hingga aspek itu, sadarkah bahasa sendiri saja belum diperkokoh? Seperti kata bijak oleh pak Leo Tolstoy, “Banyak yang tahu bahwa orang lain harus berubah, tapi sedikit yang tahu bahwa merekalah yang harus berubah”. Berubah disini memiliki arti menjadi lebih baik, lebih mencintai bahasa Indonesia. Bukan mengenyampingkan urusan kebijakan Negara, namun untuk menumbuhkan arti berbahasa Indonesia.

Hai anak bangsa, akankah rasa cinta yang telah pudar ini kembali hadir?
Mewujudkan harapan para pendahulu bukanlah hal yang instan. 2018 berbeda dengan 1928; tidak bisa disamaratakan. Kehidupan yang sekarang lebih bersifat bebas, tidak terikat, dan menjunjung tinggi kebebasan bersuara. Namun sepertinya dibutuhkan pemacu, pemecut, pencambuk supaya menyadarkan kecintaan berbahasa Indonesia. Siapakah pemacu nya? Jawabannya adalah diri sendiri. Seyogyanya sebagai orang yang hidup di Indonesia, datang di dunia dan berpijak di tanah air. Tidakkah punya rasa malu karena tidak mencintai bahasa tanah air?

Tidakkah timbul rasa empati bahwa bahasa Indonesia telah menyatukan perbedaan ini? Tidakkah kesadaran ini timbul, semakin bahasa Indonesia digunakan , semakin kaya & terhormatlah masyarakatnya? Saya, Anda, dan Kita semua adalah anak bangsa, harapan sejuta pendahulu.
Bagai pohon yang tumbuh, dan  akan terus tumbuh jika disirami air. Maka siramilah cinta berbahasa Indonesia dalam kehidupan agar nasionalisme tumbuh sempurna.
Benar kata Kak Is, vokalis Band Indie Payung Teduh, bahwa “semua rasa bisa kita cipta”. Termasuk rasa cinta yang satu ini. Cinta berbahasa Indonesia, serta tidak malu berbahasa Indonesia. Berbanggalah karena bahasa kita sudah banyak diajarkan di Negara-negara besar. Banyak pengunjung asal luar negeri yang datang ke Indonesia, sekaranglah tugas kita untuk mewarnai mereka, bukan diwarnai oleh bahasa mereka.

Sudah tidak akan lagi ada kata “pudar bahasa”, karena rasa cinta yang selalu ada. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk memacu diri menjadi lebih cinta akan bahasa Indonesia. Mulai dari meningkatkan literasi bahasa Indonesia, dalam bentuk novel, artikel, puisi, pantun, dan lain sebagainya. Bisa juga dimulai dengan membaca novel karya Pramoedya Ananta Toer, Tan Malaka, yang melukiskan sejarah Indonesia. Bahasa yang digunakan memang tinggi, namun itulah yang memperkaya diksi.

Selain itu, bisa dimulai dari perfilman. Menonton film Kartini, Dilan, dan film-film Indonesia lainnya dan sebagai poin plus untuk mempelajari budaya masa lampau. Mulai mengganti kebiasaan “toilet” menjadi “kamar kecil/belakang”, dari “petshop” menjadi “toko hewan peliharaan”, mulai dari “market” menjadi “pasar”, dan banyak kata lainnya. Bukan bermaksud memudarkan bahasa internasional, namun meninggikan derajat bahasa Indonesia.


Thursday, August 23, 2018

[crcb] cipta rasa cinta bahasa Indonesia



28 Oktober 1928. Terhitung 9 dasawarsa sejak ikrar tersebut dilantunkan. Ikrar sakral yang disampaikan oleh pemuda-pemudi yang bertekad memulai jalan baru melalui perjanjian satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Mengutarakan ikrar tersebut bukanlah hal yang mudah dicapai, pemuda-pemudi 1928 pun menaruh harapan kepada generasi berikutnya, berharap bahwa Ikrar tersebut dapat benar benar terwujud tidak hanya kemarin, tapi juga hari ini dan esok nanti.

Hari ini, saya sedang hidup dalam “Esok” mereka.   Sayalah 1 dari ribuan generasi Indonesia yang diharapkan bisa mewujudkan harapan sumpah para pemuda., khususnya Ikrar ketiga yang berbunyi “menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Bagaimana tidak? Hidup di Indonesia adalah hidup yang diharapkan bisa berbahasa Indonesia, sebagai bahasa NKRI. Bahasa persatuan ini tidak boleh blur, apalagi memudar.
Pertanyaan saya selama 18 tahun ini, bahasa sehari-hari yang saya gunakan adalah bahasa Indonesia dan Jawa, namun mengapa diksi bahasa Inggris saya lebih banyak dibanding diksi bahasa Indonesia?
Ternyata, semua berawal dari literasi. Sejak sekolah dasar, lingkungan telah mendukung saya untuk berbahasa Inggris. Hingga saat ini pun, membeli buku berbahasa inggris sudah merupakan kebiasaan saya. Menonton film berbahasa luar pun sudah sangat sering. Mungkin asupan-asupan tersebut lah penyebab berkurangnya greget berbahasa Indonesia saya. Saya yakin, bukan hanya saya yang merasakan memuudarnya bahasa Indonesia dari gaya hidup bangsa, pun kami generasi bangsa se Indonesia merasakan hal yang sama.

Refleksi diri itu penting. Bagi yang selama ini selalu menuntut perubahan kebijakan, mulai dari aspek ini hingga aspek itu, sadarkah bahasa sendiri saja belum diperkokoh? Seperti kata bijak oleh pak Leo Tolstoy, “Banyak yang tahu bahwa orang lain harus berubah, tapi sedikit yang tahu bahwa merekalah yang harus berubah”. Berubah disini memiliki arti menjadi lebih baik, lebih mencintai bahasa Indonesia. Bukan saya mengenyampingkan urusan kebijakan Negara, namun untuk menumbuhkan arti berbahasa Indonesia.

Hai anak bangsa, akankah kita mengembalikan rasa yang pernah ada?

Mewujudkan harapan para pendahulu kita bukanlah hal yang instan. 2018 berbeda dengan 1928; tidak bisa kita samaratakan. Kehidupan yang sekarang lebih bersifat bebas, tidak terikat, dan menjunjung tinggi kebebasan bersuara. Namun sepertinya kita butuh pemacu, pemecut, pencambuk supaya menyadarkan kita cinta berbahasa Indonesia. Siapakah pemacu kita? Jawabannya adalah diri kita. Seyogyanya kita yang hidup di Indonesia, datang di dunia dan berpijak di tanah air. Tidakkah kita punya rasa malu karena tidak mencintai bahasa tanah air?

Tidakkah kita ber empati bahwa kita akan saling menyatu karna bahasa Indonesia? Tidakkah kita sadar, semakin kita menggunakan bahasa Indonesia, semakin kaya & terhormatlah kita? Saya, Anda, dan Kita semua adalah anak bangsa, harapan sejuta pendahulu.
Bagai pohon yang tumbuh, dan  akan terus tumbuh jika disirami air. Maka siramilah cinta berbahasa Indonesia dalam kehidupan kita, agar nasionalisme tumbuh sempurna.

Benar kata Kak Is, vokalis Band Indie Payung Teduh, bahwa “semua rasa bisa kita cipta”. Termasuk rasa cinta yang satu ini. Cinta berbahasa Indonesia, serta tidak malu berbahasa Indonesia. Berbanggalah karena bahasa kita sudah banyak diajarkan di Negara-negara besar. Banyak pengunjung asal luar negeri yang datang ke Indonesia, sekaranglah tugas kita untuk mewarnai mereka, bukan diwarnai oleh bahasa mereka.

Sudah tidak akan lagi ada kata “pudar bahasa”, karena rasa cinta kita yang selalu ada. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk memacu diri menjadi lebih cinta akan bahasa kita. Mulai dari meningkatkan literasi bahasa Indonesia, dalam bentuk novel, artikel, puisi, pantun, dan lain sebagainya. Kita bisa mulai membaca novel karya Pramoedya Ananta Toer, Tan Malaka, yang melukiskan sejarah Indonesia. Bahasa yang digunakan memang tinggi, namun itulah yang memperkaya diksi.

Kita bisa mulai dari perfilman. Menonton film Kartini, Dilan, dan film-film Indonesia lainnya dan sebagai poin plus untuk mempelajari budaya masa lampau. Mulai mengganti kebiasaan “toilet” menjadi “kamar kecil/belakang”, dari “petshop” menjadi “toko hewan peliharaan”, mulai dari “market” menjadi “pasar”, dan banyak kata lainnya. Bukan maksud saya memudarkan bahasa internasional, namun meninggikan derajat bahasa Indonesia.

Memperkaya kata dari seni musik, siapa takut? Ada banyak band Indonesia yang nyaman di telinga & memperbanyak diksi, seperti band Indie Payung Teduh, Fourtwnty, Amigdala, Danilla, Monita Tahalea, dan favorit saya, mas Mondo Gascaro.

Sekian opini saya. Bila banyak kata yang belum terucap, mohon dimaklumi karena saya mahasiswi yang sedang belajar. Semoga saran yang saya sumbangkan untuk anak bangsa dapat diwujudkan. Terimakasih, hidup anak bangsa!

                                                                         Yang terdangkal, 

                                                                               Anak Bangsa

                                                                                 
                                                                    


Thursday, May 17, 2018

[edu-path] SELEKSI AFS-YES YP 2017/2018

Hi! Selamat datang lagii di blog blogger ini, Alfina Nur Isyrofi 😚😂

Di Tema post kali ini, aku bakal menceritakan pengalaman keikutsertaanku dalam seleksi (dari mencari arti keberhasilan, dan  akhirnya, bangkit dari kegagalan). Seleksi apa? Seleksi Exchange Program, AFS-YES 2017/2018 >_<


disclaimr : Jangan ikut sedih, ikut seneng aja!

Chapter Malang.

Semua berawal dari Mas Zydan, Zidni Zydan, kakak kelas 1 tingkat diatasku. Kata temenku, dia lolos seleksi YES YES apa gitu, dan brangkat ke Amrik tahun depan. Keren? Iya keren, dan akhirnya aku memutuskan untuk bertanya ke mas Zydan, tepatnya bulan November 2015. Orangnya sedikit menyipit karna kita berbicara di tengah lapangan sambil ada panas terik matahari "Mas yang ketua LDC kan? lolos ke amrik ya mas?" Orangnya menjawab Aamiin dan sejak saat itu kita ngga berbicara lagi.

Tepat awal bulan 2016, aku masuk tim Debat dan kebetulan dapet 1 tim dengan mas Zydan dan mba Gista, 2 speaker hebat dueh, juara. Dari situ aku mulai menggali info tentang AFS dan segala pernak pernik promosi yang ditawarkan AFS mulai dari biaya hidup, sistem seleksi, hingga keberangkatan.Beruntungnya si mas Zydan ini dapet program KL-YES, fully funded dan placementnya only in the US. WOW. WOW. US, Americuuuh~

Selain mas Zyd, aku juga mengikuti openhouse Bina Antarbudaya, di Malang Di-Lo. Ada Warda Nailul, dan Kazhimi (jimik) yang 1 sekolah sama aku. Di openhouse yang singkat itu, kami dikenalkan dengan beberapa alumni/returnee pertukaran pelajar dan 2 siswi exchange dari Prancis dan Itali. Alhamdulillah, saya dapet banyak cerita dari kehidupan mereka di luar negeri. Satu yang saya ingat, kak Aida. Kak Aida ini  alumni KL-YES yang sekarang sudah kuliah, dan dulunya pernah tinggal di Australia (omong-omong, saya juga dulunya di Australia, mungkinkan kita senasib, kak Aida? I hope so, Kak!)__itulah batin&motivasiku selama akan mengikuti seleksi.

Saatnya mendaftar! Daftar --> Cetak --> Bungkus --> Kirim ke Chapter! Wkwkwk, gampang sih ngomongnya, njalaninnya minta ampun. Disini aku ngga sendirian, ditemenin Yusi Yuansa dan Jimik. Yusi ini kelas x ips 1 yang juga daftar, anak bali punya~ sedangkan Jimi, dia anak aksel yang pengen bangeet ikut afs, tapi anak 4 semester, sih..

Seleksi tahap 1!
Aku, Yusi, dan Jimi janjian di depan MAN. Kami cegat angkot jurusan GL, arah ke tugu. Seleksinya bertempat di smansa. Disana kita tes tulis (ada tes pengetahuan alam, b.ing, dan essay). Mulai tes dari jam 8 saaaaampe jam 3 ashar. Fyuhhh, capek duduk! Bener bener, bokong rasanya kemeng. Dan akhirnya hari itu berlalu juga~

1-2 minggu setelah tes, aku dapat kabar dari Jimi bahwa kami ber-3 lolos! Alhamdulillah, waktu itu posisiku sedang nunggu angkot JPK, di sardo. Senangg sekali, rasanya pengen cepet ke amrik! Eh, masi lama woy jalannya............

Seleksi tahap II! 
Tahap ini, aku, Yusi dan Jimi dapet tawaran berangkat bareng mas Zyd, kami menjemput mas Zyd di Bandung guest house dan cusss berangkat ke ABM, Malangkucecwara. Tahap ke 2 adlah tes wawancara, bahasa Indonesia dan bahasa inggris. wawancara pertama, saya dapet yang bahasa Indonesia-cukup lama, 30 menit, mungkin waktu se-lama-itu digunakan mereka untuk menggali kepribadianku. Lalu, lanjut ke ruang bahasa inggris, ada 2 bule wow! dari itali dan US. Hari itu terasa singkat, hanya berakhir pukul 2 dan kami pulang, lagi-lagi bertiga.

1-2 minggu setelah tes, aku mulai suka stalking blog binabud malang. Deg-degan, ga sabar, kepo. Kepo parah, like everyday..... hari pengumuman tiba juga! Alhamdulillah lolos, si Yusi juga lolos. Tapi sayang, si Jimi gabisa lanjut ke tes selanjutnya Its okay jim its love! However jimi juga siswa 4 semester, pasti dituntut lulus 2 tahun dan betapa banyak tugas& hectic jadwalnya yakan? So, bestluck for you Jim!

Seleksi Tahap III
Hari itu, kelabu. Amat sangat kelabu, selain merupakan bulan puasa, hari itu juga mendung dan gerimis tipis-tipis. Aku jemput Yusi di depan MAN, dan kebetulan orangtuaku berkesempatan mengantar ke tempat seleksi, lagi-lagi di ABM. Yap, tahap 3! Judul tesnya "Dinamika Kelompok", kami juga wajib bikin tanda peserta & dihias. Aku ingat, nomor urutku 0418. Lucky number, no? Hahahaha. Dinamika kelompokku anggotanya 6, cewe semua, disana banyak temen-temen hebat seperti Lulu, Dina, Rina, Mutiara, dan satu lagi.... lupa. Mereka semua berkontribusi, pada on fire semua. Nyali ku sempet ciut tapi yasudahlah, anggep aja tugas kelompok. Dan akhirnya selesai sudah seleksi di tingkat Chapter ini.


4 bulan kemudian, pengumuman!
Tahukah kalian, selama menunggu agar tidak-terasa-lama-menunggu, aku menyibukkan diri mengikuti berbaaaaagai macam rangkaian acara mulai dari latihan pmr, lomba, musyawarah akhir masa bhakti (musakti), lembartanggungjawab osis, dan dan dan lainnya. 4 purnama sungguh lama.
September 2016-Aku mendapat SMS dari Kak Malik, menyatakan bahwa aku lolos untuk seleksi berkas ke nasional. Tak perlu apa apa, & cukup menunggu pemberitahuan Finalis Chapter Malang.

Finalis chapter malang ternyata udah diumumin. Aku masuk deretan finalis tersebut, tapi teman seperjuangan senasibku, si Yusi ngga bisa lanjut.

Tibalah ke saat-saat family gathering, disana aku bertemu finalis chapter malang dan berfoto ria.Family gathering ini bertujuan untuk mengenalkan program AFS-YES kepada wali Finalis, yang nantinya panitia chapter akan ke rumahfinalis dan ngadain home interview bersama keluarga finalis. Dari home interview, kita akan ditentukan mana yang akan ikut YES/ AFS. (Bisa disearch di google yaaa perbedaan kedua program itu)

Tepat awal bulan november, 2 minggu setelah kakak-kakak home interview ke rumahku, aku mendapat e-mail, dari afs! Aku terpilih mengikuti seleksi nasional YES di Jakarta_____wow! Sungguh sungguh sungguh! Aku pulang (tetap) menyegat angkot JPK dan membuka pintu rumah, memeluk Mama, Mama bilang "loh kenapa?" "Aku lolossss maaa ke jakarta" Alhamdulillah, bisa ke jakarta. Tahun 2016 kala itu, aku belum pernah ke Jakarta kawan~

Tiba waktunya pertengahan November, 2016. Aku dan 6 kawanku dari Chapter Malang berkumpul di Bandara Abd Rahman Saleh, Malang. Huda, Halim, Clarice, Yasyifa, Fay, Ailsa adalah ke-6 teman yang ikut berjuanggg seleksi YES di jkt. Kami berangkat pukul 9, dan tiba di Cengkareng pukul 11. Hanya kami ber 7 rombongan dari Malang dan akhirnya bertemu di suatu terminal Bandara Suhat, dan akhirnya naik Bus menuju Desa Wisata, TMII.

Macet parah.... macet~ ternyata Jakarta tetaplah Jakarta. Kami tertidur di Bus bersama kawan-kawan dari chapter lain, ada yang dari Semarang, Jogja, dan Surabaya. Kurang lebih 1,5 jam kami melewati kemacetan itu, dan tiba di Desa Wisata dengan segala pohon-pohon sejuknya......

Sudah siang, waktunya menaruh barang di Kamar. Kalau tidak salah, aku mendapat kamar 402, berisi 20 cewe-cewe canteeek, tukang turah-menurah, cerita hantu sampe ngumpuuul semua . 3 hari 2 malam aku habiskan untuk seleksi YES~ seleksinya tidak bole diceritakan karna aku ingat pesan dari kakak-kakak panitia "Jangan dishare ya, cause we will find you" Eh, apalah aku gatau...........

Tiba di hari perpisahan, hari Senin, November 2016. Kami berfoto riaaaa dan mengucapkan "Tepuk tepuk YES!" syeru sekaliiii. Sayangnya sebagian dari kami ngga ikut ke bandara soalnya mereka dari chapter Jakarta, Bogor, Bandung, Karawang..

Teman 1 Kamar >__< <3
Tibalah saat di Bandara, kami menunggu dari jam 1 hingggaa jam 5 sore. Keberangkatan kami jam 5 sore dan delay lagi hingga jam 6 sore. Di pesawat aku berkenalan dengan ibu, asli Tulungagung, sudah tua dan sangat ramah, beliau bertanya "Ada apa nih kok rombongan? acara study tour kah?" Aku dan teman sebangkuku, Yasyifa menjawab "Oh kami seleksi pertukaran pelajar bu.."

1 jam kemudian kami ber-banyak sampai di Surabaya, dan dijemput travel dan Kak Malik cs. Oiya, thankyou for everything kak Malik! Dia orang yang ramah banget, sabar nunggu kepulangan kami-kami, dan rela njemput ke Bandara malemmalem gini~

Sampai rumah. Back to reality. UH fisika menanti~

Tertidoer
Tepat tgl 20 bulan Desember, aku mendapat kabar teman-temanku yang dari Medan sudah pengumuman. Dag dig dug, Chapter" di Jawa kok pada belom ya, mungkin nantii............
21 Desember, aku tiba di stasiun Malang, setelah berlibur dengan temanku di Blitar. Malamnya, aku dan keluarga menjenguk Budheku yang sedang dirawat di RS UMM. Pukul 08.00 malam, kak Malik mengirim pesan via whatsapp. "Alfina, sudah dicek pengumumannya?"

DAG DIG DUG SER............ Sontak aku buka email lewat hp dan ternyata .... "Adik tidak terpilih mengikuti program YES 2017/2018"

Hahahahahahaa. Sedikit tumbang. Tumbang----- remuk se remuk remuknya. Saat itu aku berada di kamar Rumah Sakit menjenguk Budheku, tiba-tiba aku ikut lemas. Akhirnya kami pulang ke rumah dan aku tertidur. Di kamar, sedikit tak percaya dengan hasil seleksi karna mungkin ekspektasiku yg tinggi untuk bisa ke amerika di usia segini.

Besoknya, semua sudah membaik.

Besoknya lagi, sudah harus bangkit.

1 Pelajaran yang benar-benar harus kita ingat di setiap perjuangan : Lakukan yang terbaik, hasil itu urusan akhir. Kecewa dengan hasil? Ya, pasti... Tapi percayalah, itu memang bukan jalan yang terbaik, banyak jalan lain yang harus kita coba!

Semoga kalian, para pembaca tulisan ini bisa pergi keluar negri, dan memperbanyak pengalaman kalian, Aamiin. See you.

Malang, akhir tahun 2016 ku.

Remember, Jakarta?