Pinakosit

Slice of expression living in Alfina's moments.

Thursday, August 23, 2018

[crcb] cipta rasa cinta bahasa Indonesia



28 Oktober 1928. Terhitung 9 dasawarsa sejak ikrar tersebut dilantunkan. Ikrar sakral yang disampaikan oleh pemuda-pemudi yang bertekad memulai jalan baru melalui perjanjian satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Mengutarakan ikrar tersebut bukanlah hal yang mudah dicapai, pemuda-pemudi 1928 pun menaruh harapan kepada generasi berikutnya, berharap bahwa Ikrar tersebut dapat benar benar terwujud tidak hanya kemarin, tapi juga hari ini dan esok nanti.

Hari ini, saya sedang hidup dalam “Esok” mereka.   Sayalah 1 dari ribuan generasi Indonesia yang diharapkan bisa mewujudkan harapan sumpah para pemuda., khususnya Ikrar ketiga yang berbunyi “menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Bagaimana tidak? Hidup di Indonesia adalah hidup yang diharapkan bisa berbahasa Indonesia, sebagai bahasa NKRI. Bahasa persatuan ini tidak boleh blur, apalagi memudar.
Pertanyaan saya selama 18 tahun ini, bahasa sehari-hari yang saya gunakan adalah bahasa Indonesia dan Jawa, namun mengapa diksi bahasa Inggris saya lebih banyak dibanding diksi bahasa Indonesia?
Ternyata, semua berawal dari literasi. Sejak sekolah dasar, lingkungan telah mendukung saya untuk berbahasa Inggris. Hingga saat ini pun, membeli buku berbahasa inggris sudah merupakan kebiasaan saya. Menonton film berbahasa luar pun sudah sangat sering. Mungkin asupan-asupan tersebut lah penyebab berkurangnya greget berbahasa Indonesia saya. Saya yakin, bukan hanya saya yang merasakan memuudarnya bahasa Indonesia dari gaya hidup bangsa, pun kami generasi bangsa se Indonesia merasakan hal yang sama.

Refleksi diri itu penting. Bagi yang selama ini selalu menuntut perubahan kebijakan, mulai dari aspek ini hingga aspek itu, sadarkah bahasa sendiri saja belum diperkokoh? Seperti kata bijak oleh pak Leo Tolstoy, “Banyak yang tahu bahwa orang lain harus berubah, tapi sedikit yang tahu bahwa merekalah yang harus berubah”. Berubah disini memiliki arti menjadi lebih baik, lebih mencintai bahasa Indonesia. Bukan saya mengenyampingkan urusan kebijakan Negara, namun untuk menumbuhkan arti berbahasa Indonesia.

Hai anak bangsa, akankah kita mengembalikan rasa yang pernah ada?

Mewujudkan harapan para pendahulu kita bukanlah hal yang instan. 2018 berbeda dengan 1928; tidak bisa kita samaratakan. Kehidupan yang sekarang lebih bersifat bebas, tidak terikat, dan menjunjung tinggi kebebasan bersuara. Namun sepertinya kita butuh pemacu, pemecut, pencambuk supaya menyadarkan kita cinta berbahasa Indonesia. Siapakah pemacu kita? Jawabannya adalah diri kita. Seyogyanya kita yang hidup di Indonesia, datang di dunia dan berpijak di tanah air. Tidakkah kita punya rasa malu karena tidak mencintai bahasa tanah air?

Tidakkah kita ber empati bahwa kita akan saling menyatu karna bahasa Indonesia? Tidakkah kita sadar, semakin kita menggunakan bahasa Indonesia, semakin kaya & terhormatlah kita? Saya, Anda, dan Kita semua adalah anak bangsa, harapan sejuta pendahulu.
Bagai pohon yang tumbuh, dan  akan terus tumbuh jika disirami air. Maka siramilah cinta berbahasa Indonesia dalam kehidupan kita, agar nasionalisme tumbuh sempurna.

Benar kata Kak Is, vokalis Band Indie Payung Teduh, bahwa “semua rasa bisa kita cipta”. Termasuk rasa cinta yang satu ini. Cinta berbahasa Indonesia, serta tidak malu berbahasa Indonesia. Berbanggalah karena bahasa kita sudah banyak diajarkan di Negara-negara besar. Banyak pengunjung asal luar negeri yang datang ke Indonesia, sekaranglah tugas kita untuk mewarnai mereka, bukan diwarnai oleh bahasa mereka.

Sudah tidak akan lagi ada kata “pudar bahasa”, karena rasa cinta kita yang selalu ada. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk memacu diri menjadi lebih cinta akan bahasa kita. Mulai dari meningkatkan literasi bahasa Indonesia, dalam bentuk novel, artikel, puisi, pantun, dan lain sebagainya. Kita bisa mulai membaca novel karya Pramoedya Ananta Toer, Tan Malaka, yang melukiskan sejarah Indonesia. Bahasa yang digunakan memang tinggi, namun itulah yang memperkaya diksi.

Kita bisa mulai dari perfilman. Menonton film Kartini, Dilan, dan film-film Indonesia lainnya dan sebagai poin plus untuk mempelajari budaya masa lampau. Mulai mengganti kebiasaan “toilet” menjadi “kamar kecil/belakang”, dari “petshop” menjadi “toko hewan peliharaan”, mulai dari “market” menjadi “pasar”, dan banyak kata lainnya. Bukan maksud saya memudarkan bahasa internasional, namun meninggikan derajat bahasa Indonesia.

Memperkaya kata dari seni musik, siapa takut? Ada banyak band Indonesia yang nyaman di telinga & memperbanyak diksi, seperti band Indie Payung Teduh, Fourtwnty, Amigdala, Danilla, Monita Tahalea, dan favorit saya, mas Mondo Gascaro.

Sekian opini saya. Bila banyak kata yang belum terucap, mohon dimaklumi karena saya mahasiswi yang sedang belajar. Semoga saran yang saya sumbangkan untuk anak bangsa dapat diwujudkan. Terimakasih, hidup anak bangsa!

                                                                         Yang terdangkal, 

                                                                               Anak Bangsa